setetes hujan mampu menghancurkan masa depan, begitulah kata mereka para pujangga, yang mampu merobek dan menembus luka yang paling dalam, hingga hanya duri dan luka yang mampu mengatasinya.
waktu dan tahun yang mampu merubah membawa peruban jaman, itulah kenikamatan dan kesempurnaan jiwa yang haus dalam menembus ruang-ruang kehampaan diri. karena senyum adakah kesempatan untuk merubah.
tetap didalam tanya dan jiwa, jika tidak ingin terhempas didalam keindahan kegelapan.
berikut salah satu puisi tentang bagaikan terjadinya itu kegelapan
PUIS GALAU TETAP TERJAGA
bagaikan angin terhempasbegitulah cinta menyentuh
bagaikan angin yang lepas
begitulah cinta tidak tertahankan
menghantam meski tidak tersakiti
namun begitu mengherankan
berbunyi meski tidak bermanfaat
namun begitu mengagumkan
semua terlepas begitu adanya
saat malam dan dingin mencekam jiwa
semua terjadi begitu sederhana
saat jiwa telah melayang menembus kemunafikan
adakah tawa yang terjadi..
adakah air mata yang menetes
semua begitu sempurna
bagaikan semua telah milik bersama
angin yang dingin menembus puing-puing nadi
menandakan bahwa aurah telah melambung
senyum kecil dan tatapan mata yang tidak henti
menandakan bahwa ia telah menjadi haus
semua terjad begitu dan begini
hingga harus bertanya,
semua ini telah nikmat
hingga akhirnya tidak ada yang menentu
akhirnya, semua menjadi berakhir didalam nyawa melayang
bagaimana ini terjadi
bagimana ini terpahami
semua terlepas dari canda tawa
dan adil jika hati mampu menentukan arahanya
beberapa cinta terjadi seperti puisi itu, hingga semuan menjadi tidak menentu dan kebaikan, dan yang menjadi pertanyaan, apakah ini sudah menjadi teradisi mengikuti jaman kebarat-baratan?
trimkasih telah berkunjung

Posting Komentar
Posting Komentar